Black
Roses episode 12
-Where are
you ?!-
Sungguh anugerah bagi mereka. Kini
Gadis manis itu akan kembali pulih. Tapi bagaimana keadaan pangeran gadis itu ?
drtt…drtt.. ponsel Stevan berbunyi di layar tertulis Elang calling. “van..
hikks hikss.. “ suara tangisan lelaki di sebrang sana “eh Lang kok lo nangis !
ada apa hoii ?” Tanya Stevan sedikit ragu tak biasanya sahabat dia itu
menangis. “Gilang van gilang ! kembaran gue meninggal !!!! huaaaa ! dia ada
nitipin sesuatu buat adik lo” kini tangisan lelaki di sebrang sana smakin
menjadi. Stevan shock ! dia bingung apa yg harus di sampaikan kepada adiknya
itu jika dia mengetahui bahwa org yg sangat di cintai dan di sayanginya kini
pergi meninggalkannya untuk selama lamanya. “APA ?! kok bisa !!!” teriak stevan
yg tak percaya. “saat berjalan di persimpangan lampu merah ada sebuah mobil
truk besar menabraknya dng kecepatan tinggi. Dia sempat di larikan di rumah
sakit tapi tak lama dia menghembuskan nafas terakhirnya. Gue gak kuat van, gue
gak percaya dia secepat itu ninggalin gue hiks hiks…” lelaki itu menjelaskan
kronologisnya kepada stevan di isak tangisnya. “Lo yang sabar ya el. Gue yakin
Gilang tenang di atas sana asalkan kita semua relain dia”.
Nisa telah terbangun dari tidurnya.
Tidur yang cukup panjang paska operasi. Kini dia telah sehat kembali. Tapi ada
sesuatu yg menggajal di hatinya. “bang ? kok gue gak ada liat gilang yah dari
nisa bangun ? dia kemana bang ?” Tanya gadis itu. Stevan hanya tertunduk lemas
“sudah lah ! lupakan lelaki itu, nanti lo bakalan nyesel ngingat dia !” kata
stevan setengah membentak dan keluar meninggalkan nisa adik manisnya itu. dia
menyesal tak seharusnya dia membentak adiknya sprt itu. “apa maksud stevan tadi
yah” batin nisa yg bingung dng perlakuan kakak nya itu. setelah 5 hr di rawat
di RS pertamina nisa pun di bawa pulang dia juga sudah bisa menjalankan
aktivitasnya. Sudah sebulan dia menyusun skripsi , dan sekarang Nisa melaksanak
wisudanya. Tp dia tak begitu gembira karena sosok lelaki yg di tungguinya tak
kunjung datang. “ma, pa, bang ? Gilang mana yah ? kok hampir 2 bulan ini dia
gak pernah nemuin nisa sih” ucaap nisa lirih, hatinya sungguh kecewa, tapi dia
terus berusaha untuk menunggu pangeran hatinya. Orang tua nisa dan stevan hanya
terdiam. “Nis yuk masuk udah mau mulai nih” ajak Dinda. “yaudah yuk” hampir 2
jam berlalu acarapun selesai kini Nisa sudah selesai dengan S1 nya, dia keluar
dari gedung mewah itu . orang tua Nisa dan Stevan sangat senang melihat Nisa,
“selamat ya sayang” ucap papa Nisa “eciyaa.. adek gue udah jadi sarjana aja
nih” ucap stevan sambil mengusap usap kepala adik tersayangnya itu. Sedari tadi
Nisa hanya diam , Cuma senyuman tipis yg nyangkut di mulutnya. Sungguh
kekecewaan yg kini dalam hati Nissa walaupun harusnya kebahagiaan yg di
rasakannya. “Gilang , lo kemana gue kangen sama loe , knp loe gak pernah
ngabarin gue lagi, setiap gue tanya lo ke abang gue, abang gue selalu
mengalihkan pembicaraan. Apa yg sebenarnya terjadi ?” batin nisa , “hoiii !
ngelamun aja dr tadi entar kesambet lo” suara stevan memecahkan lamunan nissa.
“Bang ? gilang kok gak ada yah” ucap nisa sedih sambil menundukan kepalanya.
“nanti loe juga tau sendiri Nis”
2 bulan berlalu, 3 bulan berlalu,
dan sekarang ini sudah yg ke 4 bulan Gilang tak member kabar ke Nisa, Nisa semakin
bingung berulang kali di telponnya ponsel gilang tapi tak pernah aktif. Dia tau
Gilang punya abang, tpi dia tak pernah melihat abangnya gilang. Sayang gadis
itu lupa bahwa abang gilang adalah sahabat dekat abangnya. “Nis ? ada kiriman
surat nih tadi” segera nisa membuka amplopp itu “Abaaang, gue keterima di
perusahaan ERLANGGA, dan gue juga keterima di bagian manager perusahaan itu
yeaaaay” teriak gadis manis itu seraya memeluk abangnya. “waaah selamat
selamat, hebat juga lo hehe PJ dong yah”. “seeeeep” gadis itu mengedipkan mata
sebelahnya.
Waktu di Jakarta sudah menunjukkan
pukul 16.00 WIB, sprt biasa gadis itu prg jalan jalan sore bersama sahabatnya. “Din,
gue di terima looh di perusahaan ERLANGGA dan gue di ambil untuk bagian
managernya” jelas Nisa “waah selamat yah Nis, gmn nnti malam kita makan makan
hehe tp lo yang bayarin yah hehe” “Alesaan lo din, bilang aja minta di traktir”
DInda hanya senyum senyum gak jelas mendengar ucapan nisa. Setelah lama
menyusuri jalan kota Jakarta dng semburan warna senja yang cukup membuat indah
suasana di sore itu. Nisa memberhentikan mobil yg di kendarainya di depan toko
bunga langganannya dulu. “selamat datang mbak, eh baru liat nih kemana aja gak
prnh mampir lagi” sapa penjaga toko tersebut “hehe iya mbak, sya sakit , Alhamdulillah
skrg saya sudah kembali sehat” jawab gadis manis itu dng ramah. Setelah berbincang
bersama si penjaga toko nisa, nisa melihat bunga mawar hitam yg dulu sering di
belinya. Kini ia Rindu akan mawar itu, dan mawar itu membuatnya semakin rindu
akan sosok lelaki yg di sayanginya, dan di cintainya. “gilang ? lo kmn sih ?
gue rindu sama lo ! gue mohon lo balik yah… gue capek nyari nyari lo” batin
gadis itu, sungguh kerinduan menggeluti suasana hatinya. Di ambilnya 2 tangkai
mawar hitam untuk di bawanya pulang, segera dia membayar mawar itu ke penjaga
kasir. Di tentengnya mawar itu menuju pintu mobil yg di kendarainya. Tapi,
seketika kaki gadis itu berhenti melangkah sebelum sampai di pintu mobil
milikny, matanya tertuju kepada sosok lelaki yang akan masuk ke dalam mobil Nisan
Juke putih yg terpakir tepat di depan mobil miliknya. “GILAAANG !!!” teriak gadis
manis itu, lelaki itu menoleh sebentar dan melemparkan senyum kearahnya, hanya
sekejap lelaki itu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat parkirannya. Gadis
manis itu hanya diam terpaku menatap respon lelaki itu, “gilang ? lo jahat
banget sama gue, lo tega ninggalin gue, sebenarnya kemana lo selama ini” gumam
gadis itu, yg kecewa melihat respon lelaki yg di sapanya tadi, sambil berjalan
gontai dng titikan air mata membasahi pipinya. Gadis itu pun masuk, dan mengendarai
mobilnya untuk pulang.
POV LELAKI
SEBELUMNYA
“sorry nis,
gue bukan GILANG ! gilang udah gak ada gue yakin suatu saat lo bakal tau
semuanya, tp gak sekarang, dan gue udah janji bakal jagain lo buat gilang.”
No comments:
Post a Comment