“Black Roses episode 1”
-Gelapnya Langit, Kelamnya Kehidupan-
Hujan terus mengguyur ibu kota sejak
beberapa hari yang lalu. Kesedihan keterpurukan dan kehampaan itulah yang di
rasakan gadis yg berparas manis ini. Tak ada yang bias dia lakukan untuk
mengusir kegundahan hatinya. “Nisa ?” panggil seorang wanita yg sedari tadi
berdiri di sampingnya tanpa kesadarannya. Gadis itupun tak bergeming. “Nisa, lo
gak boleh kayak gini terus ! lo harus move on ! banyak laki laki laki di luar
sana yang lebih baik dari pada dia” Jelas wanita itu. Ya wanita itu adalah
sahabat nya dari kecil, Dinda Purnawinata nama lengkapnya, sudah sejak beberapa
bulan terakhir ini, dia melihat sahabatnya murung. Seperti tak ada kehidupan di
dirinya, setiap hari hanya duduk termenung di pinggiran jendela atau di tepi
kolam ikan tempat favoritnya. Dia tak tega melihat sahabatnya itu. “Lo gak tau
apa apa ! lebih baik lo diem ! lo gak tau perasaan gue sekarang” bentak sang
gadis itu. Kini wanita itu hanya terdiam melihat respon sahabatnya itu.
Selang beberapa menit..
“Nis, ? mau sampai kapan nis ? lo mau
nungguin cowok brengsek itu ? yang gak pernah nganggep lo itu ada di sampingnya
!” wanita itu pun mengangkat bicaranya.
*Flashback on*
“din jalan yuk ?” ajak nisa , “yuk,
gue juga bête di rumah. Mumpung lagi libur wehehe” . nisa pun segera
mengeluarkan mobil Hjazz merah nya yg dari tadi bertengger di pekarangan
rumahnya.
Ting..Tong… “eh non nisa , mau masuk dulu non, mbak dinda nya lagi siap
siap sebentar lagi juga turun” kata pembantu di rumah tersebut. “gak usah bi,
nisa tunggu di luar saja” jawab Nisa. Setelah beberapa detik “yuk nis, udah
siap nih”.
Mereka berdua pun segera memasuki
mobil jazz tersebut, dan pergi menyusuri jalan ibu kota. “ehh, mau kemana nih ?”
Tanya Dinda. “ke kafe aja yuk, nyante aja di sono” jawab Nisa. “terserah lu aja
dah”.
Tak jauh dari tempat mereka tadi, mereka pun sampai di kafe yang mereka
tuju. Di parikirkannya jazz milik nisa. Dan segera mereka memasuki kafe tersebut.
“duduk di mana nih ? ramai amat yah ?” kata Nisa sambil melihat lihat bangku
yang kosong. “tuh di sana aja yuk..” usul Dinda, sambil menarik lengan Nisa. “iih
pelan pelan napa , sakit tau lengan gue” oceh Nisa yg sama skali tak di gubris
Dinda. Setelah mereka sampai di kursi, mereka pun memanggil pelayan café dengan
lambaian tangan. Dan mereka pun memesan apa yang mereka inginkan.
“Nisa ! itu bukannya Robi yah, yang
di gandeng cewek” kata Dinda dengan wajah yg serius. “aah masa sih Din, salah
liat kali lo, orang robi lagi di aussie juga” sanggah Nisa dengan wajah yg
santai. “Ya ampun Nis lo liat bener bener ! itu Robi ! pacar lo, coba lo liaaat
!” paksa Dinda kepada Nisa. “haaa ! itu ROBIIII !!! Din , ROBIIII !!!” teriak
Nisa kepada lelaki itu. Sontak saja lelaki itupun kaget, dan wajah nya pucat
melihat gadis yang meneriakinya. “eeeh..
Ni..sa kok eemm.. kamu bisa di sini ?” Tanya lelaki itu dengan gugup. “say, itu
siapa ? kamu kenal ?” tambah wanita itu yg sedari tadi menggandengnya. “APA SAY
? maksdunya APA !? Robi ! lo bilang lo di Ausi, kok sekarang udah balik ? trus
ngapain lo sama Cewek satu ini ? Tolong jelasin gue rob !” Tanya Nisa dengan
penuh amarah. “oke gue jelasin ini pacar gue, dan lo ! bukan siapa siapa gue
lagi, mulai sekarang anggap kita gak pernah kenal ! dari dulu gue emang gak
pernah sayang sama lo ! gue Cuma suka suka , buat pacarin lo hanya sekedar
PERMAINAN yang….” PLAAAK ! tamparan hebat mendarat di pipi lelaki itu. “BAJINGAN
LO ! lo tau gak sakitnya gue , gue mati matian pertahanin hubungan kita hampir 2
tahun, tapi ini ? ini alasan lo !!!! IBLIS loh !” Hardik Nisa dengan penuh
linangan air mata. PLAAAKK ! sekali lagi, tamparan mendarat di pipi lelaki itu “nih
rasain, itu balesan buat lo, karena udah mainin perasaan sahabat gue !” pembelaan
dari dinda. “ini belum seberapa, lo tunggu balesan yang setimpal buat lo !
CAMKAN ITU, dan lo cewek gatel puas lo !” ancam dinda. “yuk din, kita pergi
dari sini !” ajak Nisa dengan Menarik tangan Dinda.
*flashback off*
Itulah yang membuat diri Nisa gadis
manis yg dulunya periang, jarang sekali nangis, bahkan mendapat julukan Stronger Ladies berubah 190derajat dari aslinya. Hanya karena cowok, yang sebenarnya
tak pantas di dapatkannya. Mengubah hidupnya menjadi kelam, gelap seperti tak
ada sinar yang menerangi. “Din. Gue pulang dulu yah. Kalau ada apa apa lo
telpon gue”. Papar sahabat gadis itu, hanya anggukan yg mungkin tak tampak
jelas di tunjukkannya.
“KAU BODOH NISA ! HANYA LAKI LAKI
BRENGSEK KAU JADI SEPERTI INI ! HARUSNYA KAU DENGARKAN SAHABAT KAU ITU ! MOVE
ON ! MOVE ON” Batin Nisa yang kini telah berlinangan air mata , sulit baginya
menerima kenyataan. Orang yang selama ini di sayanginya, kini pergi dengan
kenangan pahit yang membekas di relung hatinya. 2 tahun yg telah di laluinya,
kini hilang tanpa bekas. Apa yang harus dia lakukan ? bisakah bayangan lelaki
itu pergi darinya. Tanda Tanya besar bagi batin gadis itu.
No comments:
Post a Comment