Thursday, 9 May 2013


“Black Roses episode 1”
-Gelapnya Langit, Kelamnya Kehidupan-

Hujan terus mengguyur ibu kota sejak beberapa hari yang lalu. Kesedihan keterpurukan dan kehampaan itulah yang di rasakan gadis yg berparas manis ini. Tak ada yang bias dia lakukan untuk mengusir kegundahan hatinya. “Nisa ?” panggil seorang wanita yg sedari tadi berdiri di sampingnya tanpa kesadarannya. Gadis itupun tak bergeming. “Nisa, lo gak boleh kayak gini terus ! lo harus move on ! banyak laki laki laki di luar sana yang lebih baik dari pada dia” Jelas wanita itu. Ya wanita itu adalah sahabat nya dari kecil, Dinda Purnawinata nama lengkapnya, sudah sejak beberapa bulan terakhir ini, dia melihat sahabatnya murung. Seperti tak ada kehidupan di dirinya, setiap hari hanya duduk termenung di pinggiran jendela atau di tepi kolam ikan tempat favoritnya. Dia tak tega melihat sahabatnya itu. “Lo gak tau apa apa ! lebih baik lo diem ! lo gak tau perasaan gue sekarang” bentak sang gadis itu. Kini wanita itu hanya terdiam melihat respon sahabatnya itu.
Selang beberapa menit..
“Nis, ? mau sampai kapan nis ? lo mau nungguin cowok brengsek itu ? yang gak pernah nganggep lo itu ada di sampingnya !” wanita itu pun mengangkat bicaranya.

*Flashback on*
“din jalan yuk ?” ajak nisa , “yuk, gue juga bête di rumah. Mumpung lagi libur wehehe” . nisa pun segera mengeluarkan mobil Hjazz merah nya yg dari tadi bertengger di pekarangan rumahnya.
Ting..Tong… “eh non nisa , mau masuk dulu non, mbak dinda nya lagi siap siap sebentar lagi juga turun” kata pembantu di rumah tersebut. “gak usah bi, nisa tunggu di luar saja” jawab Nisa. Setelah beberapa detik “yuk nis, udah siap nih”.
Mereka berdua pun segera memasuki mobil jazz tersebut, dan pergi menyusuri jalan ibu kota. “ehh, mau kemana nih ?” Tanya Dinda. “ke kafe aja yuk, nyante aja di sono” jawab Nisa. “terserah lu aja dah”.
Tak jauh dari tempat mereka tadi, mereka pun sampai di kafe yang mereka tuju. Di parikirkannya jazz milik nisa. Dan segera mereka memasuki kafe tersebut. “duduk di mana nih ? ramai amat yah ?” kata Nisa sambil melihat lihat bangku yang kosong. “tuh di sana aja yuk..” usul Dinda, sambil menarik lengan Nisa. “iih pelan pelan napa , sakit tau lengan gue” oceh Nisa yg sama skali tak di gubris Dinda. Setelah mereka sampai di kursi, mereka pun memanggil pelayan café dengan lambaian tangan. Dan mereka pun memesan apa yang mereka inginkan.
“Nisa ! itu bukannya Robi yah, yang di gandeng cewek” kata Dinda dengan wajah yg serius. “aah masa sih Din, salah liat kali lo, orang robi lagi di aussie juga” sanggah Nisa dengan wajah yg santai. “Ya ampun Nis lo liat bener bener ! itu Robi ! pacar lo, coba lo liaaat !” paksa Dinda kepada Nisa. “haaa ! itu ROBIIII !!! Din , ROBIIII !!!” teriak Nisa kepada lelaki itu. Sontak saja lelaki itupun kaget, dan wajah nya pucat melihat gadis yang meneriakinya.  “eeeh.. Ni..sa kok eemm.. kamu bisa di sini ?” Tanya lelaki itu dengan gugup. “say, itu siapa ? kamu kenal ?” tambah wanita itu yg sedari tadi menggandengnya. “APA SAY ? maksdunya APA !? Robi ! lo bilang lo di Ausi, kok sekarang udah balik ? trus ngapain lo sama Cewek satu ini ? Tolong jelasin gue rob !” Tanya Nisa dengan penuh amarah. “oke gue jelasin ini pacar gue, dan lo ! bukan siapa siapa gue lagi, mulai sekarang anggap kita gak pernah kenal ! dari dulu gue emang gak pernah sayang sama lo ! gue Cuma suka suka , buat pacarin lo hanya sekedar PERMAINAN yang….” PLAAAK ! tamparan hebat mendarat di pipi lelaki itu. “BAJINGAN LO ! lo tau gak sakitnya gue , gue mati matian pertahanin hubungan kita hampir 2 tahun, tapi ini ? ini alasan lo !!!! IBLIS loh !” Hardik Nisa dengan penuh linangan air mata. PLAAAKK ! sekali lagi, tamparan mendarat di pipi lelaki itu “nih rasain, itu balesan buat lo, karena udah mainin perasaan sahabat gue !” pembelaan dari dinda. “ini belum seberapa, lo tunggu balesan yang setimpal buat lo ! CAMKAN ITU, dan lo cewek gatel puas lo !” ancam dinda. “yuk din, kita pergi dari sini !” ajak Nisa dengan Menarik tangan Dinda.
*flashback off*

Itulah yang membuat diri Nisa gadis manis yg dulunya periang, jarang sekali nangis, bahkan mendapat julukan Stronger Ladies berubah 190derajat dari aslinya. Hanya karena cowok, yang sebenarnya tak pantas di dapatkannya. Mengubah hidupnya menjadi kelam, gelap seperti tak ada sinar yang menerangi. “Din. Gue pulang dulu yah. Kalau ada apa apa lo telpon gue”. Papar sahabat gadis itu, hanya anggukan yg mungkin tak tampak jelas di tunjukkannya.
“KAU BODOH NISA ! HANYA LAKI LAKI BRENGSEK KAU JADI SEPERTI INI ! HARUSNYA KAU DENGARKAN SAHABAT KAU ITU ! MOVE ON ! MOVE ON” Batin Nisa yang kini telah berlinangan air mata , sulit baginya menerima kenyataan. Orang yang selama ini di sayanginya, kini pergi dengan kenangan pahit yang membekas di relung hatinya. 2 tahun yg telah di laluinya, kini hilang tanpa bekas. Apa yang harus dia lakukan ? bisakah bayangan lelaki itu pergi darinya. Tanda Tanya besar bagi batin gadis itu.


No comments:

Post a Comment