“Black Roses episode 2”
-Mencoba Berdiri, Walau Sesakit Apapun-
Kriingg… kriing.. alarm pengingat pun
berbunyi, seperti biasanya, gadis itu terbangun dengan mata yang sembab
bengkak, dan hampi 2 buah bola matanya tak tampak. Akibat membesarnya ke-2
kelopak matanya. Seperti malam sebelumnya, gadis itu hanya menangis, nangis,
dan terus menangis, menyesali takdir hidupnya. Tapi, seperti biasanya, gadis
itu mencoba berdiri, melawan kesakitannnya.
“aku harus lupain dia !”
batin gadis itu. Akhirnya setelah nyawa terkumpul, untuk memulihkan
kesadarannya. Bangkitlah dia dari ranjang empuknya, yang menemani tangisannya
semalaman. Di ambilnya handuk dan segera basuh diri di kamar mandi.
Ting tong… “eh non Dinda,
ayo silahkan masuk non, non Nisanya lagi mandi” kata ibu ibu, yang membantu dan
mengurusi rumah tersebut. Ya Nisa hanya tinggal sendiri rumahnya, orang tuanya
sibuk mengurusi bisnis di luar kota, jadi jarang sekali mereka kumpul bersama. Oh
iya nisa mempunyai kakak laki laki yang berada di aussie, namanya Stevano Barney.
Stevan merupakan temannya Robi, dan di situlah awal mulanya Nisa mengenal Robi.
“Nisaaaa ??? Buka pintu
kamar lo dong” teriak Dinda dari depan pintu kamar sahabatnya itu. Kreeeek…
pintu terbuka “Berisik ! nyante dikit bisa ?” respon nisa yg sedikit ketus sama
sahabatnya itu. Ya maklumlah namanya juga baru mencoba move on. Kalau gak yah
mungkin gadis itu bakalan bungkam dengan suaranya. “yaelaah, gak usah ketus
gitu bisa kali, gue kan niatnya baik kesini. Gimana jalan aja yuk, ke kafe ?” ajak
Dinda dengan semangat dan menarik lengan sahabatnya dan menuju mobil pribadinya.
Tetapi, seketika Nisa terdiam mendengar kata KAFE ! “uppss.. maaf banget nis,
gue salah ngomong yah, yaudah kita ke taman aja yuk” ajak Dinda dengan raut
muka yang sangat merasa bersalah, karena mengingatkan sahabatnya pada masa
pahitnya. “iya gak papa, yaudah ke taman aja yah” pinta nisa sahabatnya itu
dengan kata lirih.
Di perjalanan mereka
berdua hanya terdiam, suasana seakan akan dingin, dan membeku. “Nisa ? gue
yakin kok lo bisa lupain ini, secara perlahan lahan” ucap Dinda untuk
mencairkan suasana.”ya gue tahu din, tapi rasa pahit itu selalu ada, di
perasaan gue” jawab Nisa dng setengah berbisik.
Tiba…tiba… Ciiiitttt…. Decitan
rem mobil pun berbunyi secara mendadak. Sontak kedua gadis itu pun terkejut . “Aaawww
sakit, kepala gue kebentur nih, lo kenapa sih din ? tiba tiba ngerem gitu ?”
kesal Nisa sambil mengosok gosok kepalanya. “aduuuh Nisss ! gue kayaknya nabrak
orang deh yuuk turun yuuk” jelas Dinda dengan wajah panik.
“tuuuhkaan bener Nis gue
nabrak !” ucap Dinda dengan suara ketakutan setengah berteriak. “yaudah di tolong
dong Din, jangan panik gitu”. Nisa dengan cekatan langsung membopong lelaki yg
di tabrak Dinda tadi, dan setelah lelaki itu sampai di mobil mereka langsung
membawa lelaki itu ke Rumah Sakit terdekat.
“Lo sih Din, nyetir kagak
hati hati, kalau tu orang mati jangan bawa bawa gue yah !” ucap Nisa yg menakut
takuti sahabatnya itu. “yaelaah lu Nis, bikin gue nambah panik aja ! huaa mama
tolongin Dinda” jerit sahabat nya itu, dengan wajah yg lumus dan rasa
kebimbangan. Nisa pun tak enak hati , akhirnya di berinya sahabatnya itu
sebotol air mineral. “udah deh Din, gak usah sok dramatis gitu, kagak malu lo
di liatin orang ? anak kecil aja kagak ada tuh yang mewek kayak lu” ledek Nisa.
Seketika gadis itupun terdiam dan langsung duduk di kursi, wajahnya kini
memerah akibat perlakuan sahabatnya itu.
“apakah anda keluarganya ?”
Tanya seorang dokter kepada gadis yang bernama Dinda. “eeh bukan dok…” belum selesai
Dinda berbicara, Nisa langsung mencubit lengan sahabatnya itu “Awww…sakit Nisa
!” lirih Dinda kepada sahabatnya itu. “Saya sahabat nya lelaki itu dok,
bagaimana keadaannya ? apa dia baik baik saja ?”papar gadis itu. “ya dia baik
baik saja, hanya kaki nya yg terkilir akibat terjatuh tadi. Tapi dia sudah bisa
di bawa pulang”. Jelas dokter itu. “baik terimakasih dok”.
“aah kaki gue sakit
banget, kepala gue pusing. Dimana gue ? Lo berdua siapa ?”. Lelaki itu pun
sadarkan diri. “kenalin gue Dinda, gue yang nabrak lo tadi, maafin gue yah”
sesal Dinda kepada lelaki itu. “mawar ? mawar gue mana ?” lelaki itu mencari
mawar yang di bawanya. “mawar ? mawar apa ? gue tidak melihat mawar dari tadi”
jawab Nisa kepada lelaki itu. “mawar Hitam gue ! yg tadi gue bawa.. Aaarrghh”
Lelaki itu pun gelisah, hingga emosi tak karu karuan. “Anter gue pulang
sekarang” akhirnya lelaki itupun ingin pulang.
Parfum escada moon
sparkle, wangi yg cukup familiar bagi hidung Nisa. Jaket kulit hitam yg sngt di
kenalinya. Sedari tadi dia membopong
tubuh lelaki ini. Dia seperti mengenal lelaki itu. Tapi , siapa lelaki itu ?
mengapa begitu familiar bagi Nisa ? apa hubungan lelaki itu dengan Nisa ?
No comments:
Post a Comment